Advertisment Image

Warisan Kuliner Nusantara: Bika Ambon hingga Tahu Gejrot

Pada tahun 2025, Indonesia dengan bangga menyaksikan daftar Warisan Budaya Takbenda-nya bertambah dengan 514 elemen baru. Di antara banyaknya tradisi dan ekspresi budaya, kuliner tradisional seperti bika ambon dan tahu gejrot turut serta memperoleh pengakuan bergengsi ini. Kenikmatan kuliner ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mencerminkan keragaman dan kekayaan budaya Indonesia yang seakan tak pernah habis untuk dijelajahi.

Pencapaian dalam Melestarikan Kuliner Tradisional

Penyertaan bika ambon dan tahu gejrot dalam daftar Warisan Budaya Takbenda 2025 adalah langkah penting untuk melestarikan kuliner tradisional Indonesia. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang deras, upaya menjaga eksistensi makanan tradisional menjadi tantangan tersendiri. Dengan pengakuan ini, diharapkan generasi muda lebih bersemangat mengenal dan melestarikan makanan khas daerah mereka.

Kisah di Balik Bika Ambon dan Burayot

Bika Ambon, yang dikenal sebagai makanan khas Medan meskipun namanya mengandung kata “Ambon”, memiliki tekstur yang lezat dan rasa yang manis gurih. Makanan ini terbuat dari campuran antara telur, gula, dan santan, membentuk kue berpori yang unik. Sementara itu, burayot, camilan khas dari Garut, Jawa Barat, merupakan simbol kuatnya rasa kolektif masyarakat Sunda. Dibuat dari adonan tepung beras, gula aren, dan kelapa parut, burayot telah menjadi bagian penting dari tradisi kuliner turun-temurun di daerahnya.

Peran Makanan sebagai Identitas Budaya

Makanan tidak hanya sebatas kebutuhan biologis, tetapi juga merupakan ekspresi budaya yang dalam. Dengan berbagai ragam kulinernya, Indonesia menunjukkan bagaimana setiap daerah memiliki ciri khas dan identitasnya sendiri melalui makanan. Bika ambon dan tahu gejrot bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang sejarah panjang dari tradisi dan komunitas yang membuat dan menikmatinya. Dengan begitu, mengenal kuliner tradisional setara dengan mendalami identitas dan budaya bangsa.

Tantangan dan Peluang di Era Modern

Meskipun pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda merupakan prestasi, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga popularitas dan relevansi kuliner ini di kalangan masyarakat modern. Banyaknya makanan cepat saji dan pengaruh budaya luar menjadi disrupsi yang nyata bagi makanan tradisional. Namun, juga ada peluang besar bagi mereka yang kreatif dalam memasukkan unsur tradisional dalam pola makan modern. Inovasi yang dipadukan dengan tradisi dapat menjadi kunci untuk menjaga eksistensi kuliner warisan.

Peranan Pemerintah dan Masyarakat

Menyadari pentingnya konservasi budaya kuliner, peran pemerintah dan masyarakat sangat vital. Pemerintah diharapkan dapat merumuskan kebijakan strategis yang mendukung promosi dan edukasi warisan kuliner ini. Sementara itu, masyarakat dapat berperan aktif dengan terus mengkonsumsi, mempromosikan, dan menurunkan resep-resep ini kepada generasi mendatang. Kolaborasi antara kedua pihak ini dapat menjadi fondasi yang kuat untuk menjaga warisan kuliner tetap hidup dan berkembang.

Ketika kita melihat bika ambon, tahu gejrot, burayot, dan kuliner lainnya dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025, kita tidak hanya melihat makanan tetapi juga aspirasi untuk mempertahankan tradisi sambil beradaptasi dengan zaman. Menghargai dan melestarikan kuliner tradisional adalah salah satu bentuk cinta dan penghargaan terdalam kita terhadap kekayaan budaya bangsa. Ini bukan hanya tentang mengenang rasa, tetapi juga tentang mewariskan kekayaan tak terhingga kepada generasi yang akan datang.